movie Spider-Man: Homecoming

Yap, ucapan-ucapan mutiara dari almarhum Paman Ben ini sesuai banget ngegambarin waralaba film Spider-Man. Sejak film kesatunya, Spider-Man ialah salah satu yang sangat berani. Sony Pictures berani bertaruh “all in” buat buat film superhero dengan ongkos yang amat besar di masanya, Penasaran seperti apa keseruan Filem yang terbaru langsung kelik di situs Layarkaca21

Perjudian ini ternyata berhasil. Spider-Man (2002) berhasil bertanggung jawab atas “kekuatan besar” yang dimilikinya. Efeknya juga terlihat jelas. Trilogi Spider-Man-nya Sam Raimi dinyatakan jadi di antara trilogi film superhero terbaik sepanjang masa dan buat Spider-Man jadi superhero sangat terkenal dan disukai penggemarnya sampai saat ini.

Masa bahagia ini, sayangnya, enggak dilangsungkan lama. Keputusan Sony bikin nge-reboot film superhero kesayangan seluruh orang ini berbuah pahit. Seri The Amazing Spider-Man ternyata enggak mampu buat Spider-Man jadi sosok superhero yang disukai semua kalangan. Rencana triloginya juga akhirnya batal.

Ini buat semua orang dan penggemarnya, tergolong Viki sendiri, jadi ragu dan bertanya-tanya: apakah Spider-Man akan balik lagi? Mampukah Sony buat film Spider-Man yang benar-benar canggih kayak seri kesatunya?

Spider-Man: Homecoming ialah kesatu kalinya Marvel Studios bekerjasama dengan studio pemegang lisensi karakter Marvel lainnya, yakni Sony, dengan satunya lagi ialah 21st Century Fox. Film ini diproduksi bareng oleh Marvel dan Sony, namun dengan kontrol kreatif dan lisensi penyaluran yang melulu dipegang oleh Sony. Jon Watts jadi sutradara dengan skenario yang ditulis sama tim pengarang yang dipimpin oleh Jonathan Goldstein dan John Francis Daley.

Film ini sendiri punya cerita orisinal yang enggak akan lo temuin di komik. Kali ini, Peter Parker, diceritain sebagai anak SMA, masih dalam euforia menjadi anggota Avengers. Padahal, Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr.) sendiri enggak nganggep Peter sebagai anggota resmi.

Selanjutnya, cerita berlanjut pada konflik antara kegiatan Peter sebagai anak sekolah yang cerdas sekaligus pembela kebaikan di Kota Queens, New York. Kemampuannya sebagai Spider-Man juga diuji dengan kehadiran Adrian Toomes/Vulture (Michael Keaton), penyelundup yang secara ilegal buat dan ngejual senjata mematikan dari bekas puing-puing invasi Chitauri di film The Avengers.

Kesan kesatu yang akan lo rasain pas kesatu kali nonton film ini ialah pengalaman yang biasa lo alamin ketika nonton film-film MCU. Cerita diciptakan dengan tempo cepat tanpa basa-basi, tapi mudah dimengerti. Unsur komedinya juga terasa cerdas ala film-film Disney/MCU. Lo akan ketawa lepas tanpa ngerasa bila candaan tersebut dibuat-buat. Makanya, film ini sesuai banget ditonton bersama anak atau ponakan lo yang masih bocah. Aman kok, guys. Tenang aja. Di film ini, enggak terdapat adegan ciuman antara dua remaja yang berpotensi buat anak kecil jadi inginkan cepat dewasa.

Yap, di film ini, Spider-Man/Peter Parker is not an emo anymore! Mungkin, dulu lo ngerasa bila film-film Spider-Man terasa kayak suatu film drama remaja berkedok film superhero, terutama seri The Amazing Spider-Man. Satu urusan yang Viki perhatiin, di Homecoming, Peter hanya sekali nangis. Adegan kayak begitu tentunya sering banget lo temuin di Spidey-nya Andrew Garfield. Hal berikut yang ngebedain Homecoming sama film-film Spider-Man sebelumnya. Homecoming lebih terkesan sebagai film family dibanding film-film sebelumnya yang terasa kayak FTV alias drama remaja.

Secara keseluruhan, film ini tergolong sempurna dari sisi cerita. Lo enggak akan nemuin plot hole yang buat lo bingung pas filmnya selesai. Sedikit bocoran, Homecoming ini punya tidak sedikit twist yang benar-benar buat lo enggak nyangka, loh. Twist ini dibuat secara sempurna dan enggak terkesan murahan. Mungkin, buat beberapa orang, twist ini kelihatan sepele dan mudah ketebak. Akan tetapi, Viki jamin, twist ini akan terasa amazing banget bikin lo yang nikmatin dan menghayati film ini dari awal.

Pemilihan dan penampilan semua aktor di Spider-Man: Homecoming memang jadi di antara aspek terbaik di film ini. Lewat penokohan ini, Watts pun cerdas mainin benak dan emosi penontonnya. Jadi, enggak usah heran bila lo nantinya akan terkaget-kaget dengan bagaimana metodenya film ini ngenalin karakternya.

Soal pemeran, Viki kasih empat ibu jari buat Tom Holland. Doi berhasil banget ngegambarin sosok Peter Parker yang masih muda, polos, dan antusias. Memang, sih, sepanjang film, doi tergolong cerewet. Namun, urusan tersebut enggak akan terasa mengganggu, kok. Soalnya, lo akan kebawa sama penampilan kocaknya. Chemistry antara satu pemeran lain pun kelihatan powerful banget, khususnya interaksinya sama Robert Downey Jr./Tony Stark dan Ned (Jacob Batalon), sang sidekick.

Keputusan bikin masukin Ned jadi karakter ini tepat banget. Batalon terbukti berhasil ngimbangin akting Holland akting kocaknya. Semuanya terasa makin menyeluruh dengan tampilan Ned yang kocak dan polos. Marisa Tomei pun pas banget jadi pemeran Tante May. Uniknya, dia sempat dilawan karena dirasakan terlalu muda andai dibandingin sama film-film sebelumnya atau di komik. Namun, enggak bohong, deh, lo pasti akan kesengsem dan nikmatin penampilan Tomei.

Di antara semuanya, Michael Keaton jadi bintang di samping Holland dan Batalon. Perannya di Homecoming ini sendiri bukanlah yang kesatu baginya di film superhero. Makanya, aktingnya “lepas banget”. Perannya sebagai sosok villain ini sesuai banget baginya. Soalnya, dia enggak cuma berhasil nampilin sisi jahat. Keaton juga buat kita terkesima dengan sisi beda yang lo enggak sangka.

Spider-Man: Homecoming pun masih punya potensi besar di aspek penokohan. Di samping karakter-karakter yang Viki sebutin tadi, ada di antara karakter (serta pemerannya) yang akan potensial banget. Buat lo yang anak gamers, tentunya sadar bila Michael Mando, pemeran Vaas Montenegro di game Far Cry 3, tampil di adegan post-credit.

Sedikit bocoran, dia akan meranin karakter villain mempunyai nama Scorpion. FYI, di komik, dia jadi di antara supervillain yang lumayan ngerepotin Spidey. Nah, pastinya menarik, ‘kan, aksi Scorpion di film Spider-Man berikutnya? Ditambah, keterampilan akting Mando sebagai karakter villain udah terbukti brilian di Far Cry 3.

Meski semuanya tampak tanpa cacat, ada urusan yang Viki rasa agak mengganjal. Rasa mengganjal ini merupakan penampilan dari Donald Glover yang enggak lain ialah pengisi suara Miles Morales/Spider-Man di serial animasinya. Sedikit bocoran, karakter yang dia perankan enggak punya peran penting.

Viki sendiri sebelumnya ngira bila dia akan jadi sosok urgen yang akan punya pengaruh di film-film Spider-Man berikutnya. Apalagi bila kita menyaksikan perannya sebagai Spider-Man di versi animasi. Bagi peminat Spider-Man, pasti hal ini buat kita menduga-duga bila dia akan punya peran penting, sekalipun tak dapat rasanya terdapat dua Spider-Man di film ini. Sayangnya, prediksi Viki salah. Dia murni melulu sebagai cameo dengan porsi tampil yang lebih banyak. Padahal, akan menarik andai Glover punya porsi lebih di Homecoming atau juga film-film selanjutnya.

Meski enggak begitu istimewa, Sony dan Marvel enggak ngelakuin urusan yang salah dalam aspek scoring serta pemilihan soundtrack. Komposer film Doctor Strange, Michael Giacchino, pulang terpilih bikin nyusun scoring guna Spider-Man: Homecoming. Lo akan cukup nikmatin musik yang dibentuk sama Giacchino ini. Dari adegan kesatu, lo akan dibawa nostalgia dengan theme song Spider-Man yang di-mix ala musik film-film MCU. Di samping itu, soundtrack ala serial kartun jadul ini pun kedengaran pas bikin ngegambarin kehidupan Peter Parker/Spidey sebagai anak muda yang cerdas dan energik.

Secara keseluruhan, Spider-Man: Homecoming berhasil ngasih persembahan yang terbaik buat semua penggemarnya yang udah lumayan lama nungguin Spidey bertindak di MCU. Kalau lo peminat sejati film-film MCU, tentunya nikmatin banget film ini. Sentuhan Marvel Studios terbukti ampuh buat film ini jadi lebih mengasyikkan dan cerdas. Sayangnya, barangkali Homecoming akan terasa kayak film superhero remaja receh bikin lo yang suka film-film superhero dark ala trilogi Batman-nya Christopher Nolan.

Meski enggak dapat dibilang jadi film Spider-Man terbaik, Spider-Man: Homecoming dapat nampilin sebuah empiris sinematik yang menarik dan menyenangkan. Makanya, film ini kudu lo tonton sebelum nyesel karena dengar bocoran-bocorannya. Di samping itu, patut dirindukan juga bagaimana kelanjutan petualangan Spider-Man bareng superhero-superhero MCU lainnya.

Leave a Comment